EKSPLORASI MUSIK SISTEM 12 TET (20 NADA PER OKTAF): INOVASI DAN PELUANG DALAM SENI MUSIK MODERN
KARYA TULIS ILMIAH
EKSPLORASI MUSIK SISTEM 12 TET (20 NADA PER OKTAF): INOVASI DAN PELUANG DALAM SENI MUSIK MODERN
Diajukan kepada:
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Oleh:
[Nama Penulis/Tim Penulis]
[Tanggal]
DAFTAR ISI
1. BAB I - Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
2. BAB II - Tinjauan Pustaka
2.1 Sistem Musik 12-TET Konvensional
2.2 Perkembangan Musik Mikrotonal
2.3 Sistem 12-TET dengan 20 Nada per Oktav
3. BAB III - Metodologi Penelitian
3.1 Desain Penelitian
3.2 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
3.3 Teknik Analisis Data
4. BAB IV - Pembahasan
4.1 Dasar Teoritis Sistem 12-TET dengan 20 Nada per Oktav
4.2 Implementasi Teknologi pada Instrumen Musik
4.3 Potensi Artistik dan Estetika
4.4 Tantangan dan Solusi
5. BAB V - Kesimpulan dan Rekomendasi
5.1 Kesimpulan
5.2 Rekomendasi
6. Daftar Pustaka
BAB I - PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Musik adalah salah satu bentuk seni yang terus berkembang sepanjang sejarah manusia. Sementara waktu sekarang ini, salah satu sistem paling dominan dalam musik modern adalah 8-Tone Equal Temperament (8-TET), di mana setiap oktaf dibagi menjadi 12 nada dengan interval yang sama yaitu: C C# D D# E F F# G G# A A# B dalam skala mayor, atau A A# B C C# D D# E F F# G G# dalam skala minor. Sistem ini telah menjadi standar global untuk komposisi musik klasik maupun populer dengan standarisasi frekwensi suatu nada yaang dihitung adalah sama dengan frekwensi nada acuan dikali dua pangkat satu per dua belas pangkat n, dalam fungsi matematis dituliskan :
f_n = f_0 × {2 pangkat (1/12) pangkat n}
dimana:
f_n adalah frekwensi nada yang dihitung.
f_0 adalah frekwensi nada referensi, dalam hal ini f_0 = f_A4 (frekwensi nada A4 = 440 Hz).
n adalah jumlah langkah "setengah langkah" (semitone) dari nada referensi ke nada yang dihitung.
Dan standarisasi frekwensi oktaf nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi oktaf nada sebelumnya dikali dua. Dalam fungsi matematis dituliskan:
f_oktaf berikutnya = f_oktaf sebelumnya × 2
dimana:
f_oktaf berikutnya adalah frekwensi nada di oktaf yang dihitung.
f_oktaf sebelumnya adalah frekwensi nada yang sama di oktaf sebelumnya.
Namun, dunia musik saat ini membutuhkan eksplorasi baru yang tidak hanya menarik tetapi juga membuka dimensi artistik baru.
Perkembangan peradaban kehidupan manusia di bumi yang siiiring mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, musik tradisionil (musik sistem 8 TET: 12 nada per oktaf) sudah terasa tidak dapat lagi mengimbangi lejitan kemajuan dan lindasan zaman dan teknologi modern di masa kini. Alunan nada-nada musik 8 TET (12 nada per oktaf) sudah terasa kehilangan kekuatannya untuk mengembalikan sesuatu makna “estetika” bagi para musisi atau bagi para pendengar musik.
Untuk itu, perkembangan teknologi dan kebutuhan artistik kontemporer telah mendorong eksplorasi ke dalam sistem nada yang lebih kompleks dan fleksibel. Dengan sistem nada yang lebih kompleks dan fleksibel, maka dunia musik kembali mendapatkan kekuatan baru dalam menemukan “estetika” musik untuk mengimbangi atau bahkan mengatasi lejitan dan lindasan zaman dan teknologi yang berkembang pesat. Salah satunya adalah sistem 12-TET yang diperluas menjadi 20 nada per oktaf. Sistem ini memungkinkan pengembangan skala mikrotonal yang membuka peluang baru dalam harmoni, melodi, dan ekspresi seni.
BRIN sebagai lembaga riset nasional dapat berperan dalam mendorong inovasi ini untuk memajukan seni musik di Indonesia, baik dalam ranah akademik maupun industri. Dengan pendekatan yang tepat, inovasi dari pihak BRIN dapat menjadi terobosan baru dalam dunia musik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Dasar teoritis musik sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa setiap nada musik sistem 8 TET (12 nada per oktaf) memiliki frekwensi yang masing masing adalah unik,
Susunan nada nada musik 8 TET (12 nada per oktaf) ini dalam tiap oktaf terdiri dari 8 nada yaitu : C D E F G A B C dalam skala mayor, atau A B C D E F G A dalam skala minor.
Jarak interval atau jarak laras antar nada di musik sistem 8 TET (12 nada per oktaf) adalah:
C D E F G A B C
1 1 ½ 1 1 1 ½
dalam skala mayor,
atau A B C D E F G A
1 ½ 1 1 ½ 1 1
dalam skala minor.
Apa kata orang pintar “dari keisengan timbul suatu ke brilianan”, berawal dari keisengan membuat nada-nada dalam satu oktaf menjadi 12 nada (menggantikan 8 nada) yaitu A B C D E F G H I J K A dalam nada skala minor, atau E F G H I J K A B C D E dalam skala mayor yang masing-masing nada memiliki frekwensi yang unik juga seperti halnya pada musik sistem 8 TET (12 nada per oktaf), maka timbul suatu penemuan baru dalam bidang musik yaitu musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf).
Jarak interval atau jarak laras antar nada di musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) adalah:
E F G H I J K A B C D E
1 1 1 1 ½ 1 1 1 1 1 ½
dalam skala atau nada dasar natural mayor, nada dimulai dari E (E sebagai 1)
atau
A B C D E F G H I J K A
1 1 1 ½ 1 1 1 1 ½ 1 1
dalam skala atau nada dasar natural minor, nada dimulai dari A (A sebagai 1).
Bila pada tangga nada musik 12 TET (20 nada per oktaf) dengan nada dasar natural Mayor dibuat sama sepertj musik 8 TET (12 nada per oktaf) yaitu nada dasar C=1, maka ini menggambarkan fenomena atau ekspresi seni musik yang setengah happy/riang gembira bila dibanding dengan nada dasar natural minor A=1 yang menggambarkan kesedihan. Tetapi bila dibuat nada dasar natural Mayor adalah E=1 maka ini akan jelas menggambarkan fenomena atau ekspresi seni musik yang penuh dengan happy/riang gembira, oleh karena itu maka pada tangga nada musik 12 TET (20 nada per oktaf) nada dasar natural Mayor yang benar adalah dimulai dari nada E. Dan pada tangga nada musik 12 TET (20 nada per oktaf) nada dasar natural minor yang benar adalah tetap dimulai dari nada A.
Sekilas pemikiran ini menggeser pemahaman kita selama ini tentang tangga nada Mayor dan minor pada sistem 8 TET (12 nada per oktaf). Pada musik baru yaitu musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) ini, di mana penentuan nada dasar mempengaruhi ekspresi emosi dari skala nada yang dimainkan. Berikut adalah beberapa poin terkait konsep ini dan bagaimana pembentukannya:
1.1. Tangga Nada Natural Mayor dengan Nada Dasar E:
Dengan memulai dari nada dasar E dan menerapkan interval yang diberikan, tangga nada Mayor akan memberikan efek yang lebih ceria (happy) dan uplifting. Natural nada dasar E memberikan karakteristik ceria yang berbeda dibandingkan natural Mayor pada nada dasar C yang lebih lembut. Susunan ini menghasilkan interval seperti berikut:
E - F - G - H - I - J - K - A - B - C - D - E
1 1 1 1 1/2 1 1 1 1 1 1/2
Di sini, interval 1/2 berada di antara nada I-J dan D-E, memberikan warna harmonis yang cenderung lebih bersemangat dan optimistik dibandingkan nada dasar natural Mayor C.
1.2. Tangga Nada Natural minor dengan Nada Dasar A:
Tangga nada natural minor tetap dimulai dari nada dasar A, yang secara tradisional diasosiasikan dengan perasaan melankolis atau kesedihan mendalam. Dengan struktur interval seperti berikut:
A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - A
1 1 1 1/2 1 1 1 1 1/2 1 1
Dalam susunan minor ini, interval 1/2 berada di antara nada D-E dan I-J, memberi nada minor bersifat yang lebih lembut dan emosional dibandingkan natural Mayor pada E.
1.3. Karakteristik Ekspresi Seni Pada Tangga Nada Baru:
Dengan menjadikan nada E sebagai dasar natural Mayor dan nada A sebagai dasar natural Minor, musik menghasilkan kontras antara dua skala yang secara emosional menjadi lebih jelas—Mayor pada E terasa lebih cerah dan bahagia, sementara Minor pada A tetap menggambarkan nada yang penuh emosi. Dalam notasi balok, musik akan mempertahankan konsep interval ini, meski susunan nadanya berbeda dari skala tradisional 8 TET (12 nada per oktaf).
Jika diinginkan, musik juga dapat membuatkan visualisasi atau notasi lengkap dari tangga nada ini dalam format tertentu atau membuat diagram frekuensi untuk setiap nada dalam tangga musik baru ini.
3. Musik Sistem 12 TET (20 nada per oktaf) Pada Instrumen Musik Modern
Musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) dapat diterapkan pada setiap jenis instrumen musik modern atau pun instrumen tradisionil, baik instrumen/alat musik tiup, instrumen/alat musik petik, instrumen/alat musik gesek, atau instrumen/alat musik lainnya, kecuali pada instrumen/alat musik pukul, namun instrumen-instrumen tetsebut harus di modifikasi atau diproduksi yang baru yang sesuai dengan musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) karens masing-masing nada musik 12 TET (20 nada per oktaf) yang dimainkan adalah unik/temperamen yang berbeda dari biasanya sistem 8 TET (12 nada per oktaf).
Keunikan/temperamen masing masing nada musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) adalah masing-masing nada memiliki nilai frekwensi (Hz) dallam ukuran standar. Musik sistem ini dapat menggantikan standarisasi frekwensi nada musik sistem 8 TET (12 nada per oktqf) guna dipakai secara global dalam komposisi musik klasik maupun populer di masa yang akan datang, dimana standarisasi frekwensi suatu nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi nada acuan dikali tiga pangkat satu per dua puluh pangkat n, dalam fungsi matematis dituliskan :
f_n = f_0 × {3 pangkat (1/20) pangkat n}
dimana:
f_n adalah frekwensi nada yang dihitung.
f_0 adalah frekwensi nada referensi, dalam hal ini f_0 = f_A4 (frekwensi nada A4 = 440 Hz).
n adalah jumlah langkah "setengah langkah" (semitone) dari nada referensi ke nada yang dihitung.
Dan standarisasi frekwensi oktaf nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi oktaf nada sebelumnya dikali tiga. Dalam fungsi matematis dituliskan:
f_oktaf berikutnya = f_oktaf sebelumnya × 3
dimana:
f_oktaf berikutnya adalah frekwensi nada di oktaf yang dihitung.
f_oktaf sebelumnya adalah frekwensi nada yang sama di oktaf sebelumnya.
Pengembangan instrumen musik berbasis sistem 12 TET dengan 20 nada per oktaf akan menjadi langkah revolusioner dalam dunia musik. Dengan harapan semua pihak dapat bekerja sama baik antara perusahaan/industri musik, akademik/institusi seni, maupun musisi/masyarakat berbudaya bersedia saling bekerja sama untuk menghadirkan inovasi ini ke dunia.
4. Manfaat dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf)
Musik dengan sistem 12 TET (20 nada per oktaf) adalah musik sistem baru yang belum dikenal masyatakat dunia luas.
Memperkenalkan sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf, yang memberikan fleksibilitas musikal dan pengalaman estetika yang tidak dapat dicapai oleh sistem standar konvensional 8 TET (12 nada per oktaf), misalnya memperkenalkan sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf ke industri alat musik adalah tantangan sekaligus peluang. Sistem ini menawarkan eksplorasi musik baru yang unik dan eksperimental. Namun, agar perusahaan atau pabrik pembuat alat musik seperti keyboard atau piano memproduksi alat tersebut, diperlukan strategi pendekatan yang melibatkan penelitian pasar, presentasi nilai inovasi, dan dukungan komunitas musik eksperimental. Sistem baru ini menciptakan skala mikrotonal yang memungkinkan variasi harmoni, melodi, dan ekspresi emosi yang lebih luas.
Sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf merupakan inovasi dalam komposisi musik yang menggabungkan prinsip-prinsip mikrotonal dengan fleksibilitas praktis. Beberapa alasan mengapa sistem ini relevan:
1. Unik dan Eksperimental: Membuka jalan untuk menciptakan musik yang belum pernah terdengar sebelumnya.
2. Potensi Genre Baru: Musik mikrotonal menjadi fondasi genre eksperimental, yang dapat menarik musisi dan penggemar baru.
3. Dukungan Teknologi: Dengan teknologi digital dan sintetis yang ada saat ini, instrumen baru berbasis sistem ini dapat dengan mudah diproduksi.
4.1 Manfaat implementasi musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf):
- Menjadi alat musik pertama yang mendukung sistem 20 nada per oktaf secara global.
- Membuka pasar baru dalam musik eksperimental, pendidikan musik, dan penelitian akustik.
- Mendapatkan daya tarik di komunitas akademik dan institusi seni.
4.2 Tantangan implementasi musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf):
- Biaya produksi awal yang tinggi.
- Sistem baru yang belum dikenal luas membutuhkan waktu untuk diterima.
- Kebutuhan edukasi bagi pemain dan penyelaman.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dibuat untuk mencapai tujuan, yaitu:
1. Menjelaskan teori dasar dari sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf.
2. Menganalisis potensi artistik dan teknologinya dalam seni musik.
3. Memberikan solusi atas tantangan implementasi sistem.
4. Menjelaskan adanya peluang sistem 12 TET (20 nada per oktaf) dapat berkembang dalam musik eksperimental, pendidikan seni musik, dan penelitian akustik.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk memberi manfaat bagi masyarakat lingkungan/dunia:
1. Akademik: Menyediakan wawasan baru untuk pengembangan musik mikrotonal.
Musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) adalah musik yang menggunakan nada bertemperamen tone sama dalam 12 nada atau jumlah nada sebanyak 20 nada per oktaf (termasuk kromatik) yang setiap nadanya memiliki keteraturan dan keseimbangan frekwensi sesuai rumus penghitungan nilai frekwensi nada f_n = f_0 × {3 pangkat (1/20) pangkat n}, dan nilai oktaf berikutnya = 3 × oktaf sebelumnya. Sehingga musik baru ini tergolong dalam musik mikrotonal modern dalam arti yang paling luas dimana gugus nada nada "keyboard" yang ada "di antara tuts" dari dua puluh nada standar yang diberi jarak yang sama hingga satu oktaf. Skala mikrotonal dapat digunakan untuk memperkaya ornamentasi melodi, menciptakan nuansa yang lebih mendalam.
2. Industri: Memberikan dasar untuk pengembangan instrumen musik inovatif.
Diperlukan langkah-langkah untuk mendapatkan dukungan produksi alat/instrumen musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf), yaitu:
a. Prototipe Digital yang jelas:
- Membangun simulasi sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf dalam bentuk aplikasi atau plugin virtual.
- Menggunakan DAW (Digital Audio Workstation) untuk menunjukkan bagaimana musik di sistem ini terdengar.
b. Bukti Potensi Pasar:
- Menawarkan sistem ini ke komunitas musik eksperimental, akumulasi modern, dan pendukung mikrotonalitas.
- Menjelaskan bagaimana sistem ini memberikan peluang baru dalam genre musik seperti elektronik, avant-garde, atau musik film.
c. Dukungan komunitas musik mikrotonal.
- Kolaborasi dengan Artis dan Komposer:
- Libatkan musik atau akumulasi terkenal yang mendukung eksplorasi mikrotonal.
- Contoh: Komposer seperti Ivan Wyschnegradsky atau pendukung musik mikrotonal lainnya.
3. Kultural: Mendorong penciptaan karya seni yang unik dan merepresentasikan keunikan budaya, khususnya budaya Indonesia.
Dengan memperkenalkan sistem musik mikrotonal seperti 12-TET dengan 20 nada per oktaf, ada peluang besar untuk menciptakan karya seni yang tidak hanya unik secara global, tetapi juga memperkaya identitas budaya Indonesia.
Sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf menawarkan peluang untuk menjembatani musik tradisional dan modern. Keunikan budaya Indonesia yang sering kali berbasis mikrotonal dapat diintegrasikan ke dalam sistem ini, memberikan platform baru untuk:
Eksplorasi Harmoni Baru: Interval mikrotonal dapat menghasilkan harmoni kompleks yang memperkaya komposisi musik tradisional dan modern.
Ekspresi Artistik yang Luas: Kombinasi sistem baru ini dengan nada tradisional dapat meningkatkan ekspresi emosional dalam musik.
3.1 Manfaat khusus untuk Budaya Indonesia
1. Preservasi dan Inovasi:
Sistem ini memberikan cara baru untuk menjaga dan mengembangkan budaya musik Indonesia, sehingga tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dalam konteks global.
2. Pengakuan Global:
Dengan menciptakan karya seni berbasis sistem ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi seni di tingkat internasional.
3. Meningkatkan Apresiasi Generasi Muda:
Musik modern berbasis sistem ini dapat menarik perhatian generasi muda untuk kembali mengeksplorasi warisan musik tradisional, tetapi dalam format yang lebih relevan dengan zaman.
Sistem musik 12-TET dengan 20 nada per oktaf adalah peluang besar untuk mendorong penciptaan karya seni yang merepresentasikan keunikan budaya khususnya budaya Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi antara seniman tradisional dan modern, sistem ini dapat memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah era globalisasi, sekaligus membuka pintu untuk inovasi artistik baru yang relevan secara lokal dan global.
BAB II - TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Musik Konvensional 8-TET (12 nada per oktaf)
Sistem musik 8-TET adalah hasil penyetaraan interval nada dalam satu oktaf menjadi 12 bagian yang sama, dengan setiap nada berjarak dalam rasio frekuensi. Sistem ini diterapkan pada hampir semua instrumen modern, termasuk piano dan gitar.
Berikut diberikan daftar frekuensi nada dalam 7 oktaf, dari nada terendah (A1) hingga tertinggi (A8), beserta nama nada masing-masing dalam standar 12 nada per oktaf (temperament rata-rata):
Gbr 1
Gbr 2
Gbr 3
Gbr 4
Gbr 5
Gbr 6
Gbr 7
Daftar tersebut mengikuti standar 12 nada per oktaf dengan frekuensi A4 = 440 Hz sebagai acuan nada.
Setiap nada musik sistem 8 TET (12 nada per oktaf) memiliki standarisasi frekwensi nada yang dihitung dalam fungsi matematis dengan rumus :
f_n = f_0 × {2 pangkat (1/12) pangkat n}
dimana:
f_n adalah frekwensi nada yang dihitung.
f_0 adalah frekwensi nada referensi, dalam hal ini f_0 = f_A4 (frekwensi nada A4 = 440 Hz).
n adalah jumlah langkah "setengah langkah" (semitone) dari nada referensi ke nada yang dihitung.
Dan standarisasi frekwensi oktaf nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi oktaf nada sebelumnya dikali dua. Dalam fungsi matematis dituliskan:
f_oktaf berikutnya = f_oktaf sebelumnya × 2
dimana:
F_oktaf berikutnya adalah frekwensi nada di oktaf yang dihitung.
f_oktaf sebelumnya adalah frekwensi nada yang sama di oktaf sebelumnya.
Misalnya menghitung frekwensi nada A#4, B4, dan G#3 :
f_A#4 = f_A4 × {2 pangkat (1/12) pangkat 1}
f_A#4 = 440 × {2 pangkat (1/12)}
f_A#4 = 440 × 1.0594 = 466.16 Hz
f_B4 = f_A4 × {2 pangkat (1/12) pangkat 2}
f_B4 = 440 × {2 pangkat (2/12)}
f_B4 = 440 × 1.1224 = 493.88 Hz
f_G#4 = f_A4 × {2 pangkat (1/12) pangkat (-1)}
f_G#4 = 440 × {2 pangkat (-1)/12)}
f_G#4 = 440 × 0.9439 = 415.30 Hz
Selain penentuan standarisasi frekwensi nada, ada hal lain yang perlu diperhatikn pada musik 8 TET (12 nada per oktaf), yaitu:
1. Menggunakan sistem 8 TET (12 nada per oktaf) dengan simbol nada-nada: C C# D D# E F F# G G# A A# B C'). Dalam notasi angka : 1 1 2 2 3 4 4 5 5 6 6 7 1' , dengan solmisasinya: Do - di - Re - ri - Mi - Fa - fi - Sol - sil - La - li - Si - Do.
2. Acuan nada pada sistem 8 TET (12 nada per oktaf) pada nada berfrekwensi 440 Hz ada diurutan ke-1 dalam susunan nada nada.
3. Pada nada dasar natural Mayor, sistem 8 TET (12 nada per oktaf) dimulai dari nada C, dengan solmisasi nada C adalah nada 1 (do).
4. Pada nada dasar natural, interval atau jarak antar nada yang berjarak 1/2 laras pada musik 8 TET (12 nada per oktaf) ada pada nada B (si) ke C (do), dan nada E (mi) ke F (fa).
5. Pada nada dasar natural, interval atau jarak antar nada yang berjarak 1 laras pada musik 8 TET (12 nada per oktaf) ada sebanyak 5 buah.
6. Interval atau selisih frekwensi antar nada tetangganya terdekat di sistem 8 TET ( 12 nada per oktaf) adalah sangat besar bila dibanding sistem 12 TET (20 nada per oktaf).
7. Pada sistem 8 TET (12 nada per oktaf), musik menggunakan frekwensi nada nada yang kurang berkenan bila dibanding frekwensi nada nada pada sistem 12 TET (20 nada per oktaf),
8. Bila membutuhkan nada sebanyak 60 buah nada (termasuk kromatik), maka harus dalam 5 oktaf.
2.2 Perkembangan Musik Mikrotonal
Musik mikrotonal adalah suatu musik yang menggunakan sistem tangga nada yang berbeda dari sistem konvensional 8 TET (12 nada per oktaf) karena jarak interval antar nada-nya tidak sesuai dengan sistem 8-TET konvensional (jarak intervalnya lebih pendek).
Musik mikrotonal mengacu pada penggunaan interval nada yang lebih kecil dari semiton (setengah nada). Contohnya adalah sistem 24 nada per oktaf yang sering digunakan dalam musik Arab dan Persia.
Musik tradisional Indonesia menggunakan sistem tangga nada mikrotonal yang berbeda dari sistem Barat. Contohnya;:
Pelog: Tangga nada dengan 7 nada tidak setara.
Slendro: Tangga nada dengan 5 nada yang jaraknya relatif sama.
Kedua sistem ini secara alami selaras dengan ide mikrotonal karena intervalnya tidak selalu sesuai dengan sistem 8-TET konvensional.
2.3 Sistem Musik 12-TET dengan 20 Nada per Oktav
Pendekatan sistem musik 12 TET ini memperluas sistem standar menjadi 20 nada per oktaf dengan pembagian interval sebesar tiga pangkat (satu per dua puluh) . Sistem ini menghasilkan frekuensi yang lebih kaya, menciptakan potensi harmoni baru yang belum pernah ada sebelumnya. Oleh karena itu belum ada satu pun pustaka atau dokumen publikasi yang membahas tentang sistem musik 12 TET (20 nada per oktaf).
BAB III - METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan eksperimental untuk memahami teori dan implementasi sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf.
III.1.1 Susunan Nada dan Jarak Interval Antar Nada Musik Sistem 12 TET (20 Nada per oktaf)
Berikut ini diberikan cara menentukan susunan nada dan jarak interval antar nada pada musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf):
1. Membuat Simbol Nada Skala minor
Tentukan simbol nada sebanyak (12-1) atau 11 buah yang dimulai dari huruf A hingga K yaitu: A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K untuk merepresentasikan semua nada pada nada dasar natural minor sistem 12 TET (20 nada per oktaf), dan simbol nada diakhiri dengan huruf A kembali, sehingga simbol simbol nada yang didapat adalah: A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, A
2. Membuat Simbol Nada
Skala Mayor
Sebanyak 11 nada dari susunan nada dasar natural minor tersebut, bentuk-lah susunan baru dari simbol simbol nada untuk merepresentasikan nada dasar natural Mayor, caranya hitungan dimulai dari nada tertinggi (nada K) melangkah ke depan sebanyak 6 step yaitu tepat pada nada E, sehingga susunan nada dasar natural Mayor musik sistem 12 TET (20 nada per oktaf) adalah dengan susunan: E, F, G, H, I, J, K, A, B, C, D , dimana nada E sebagai nada dasar natural Mayor pada sistem 12 TET (20 nada per oktaf). Lalu simbol-simbol nada diakhiri dengan huruf E kembali, sehingga simbol-simbol nada yang didapat adalah: E, F, G, H, I, J, K, A, B, C, D, E.
3. Membuat Jarak Interval Antar Nada Skala Mayor
Bentuklah susunan jarak interval antar nada pada nada dasar natural Mayor E=1 dengan aturan meniru pola penciptaan oleh Tuhan Allah akan keseimbangan dan keteraturan dalam kesempurnaan kehidupan dibumi bagi setiap mahluk yang selalu berpasangan dan di dua belahan (dalam hal ini di bagian belahan terang bumi ada 1 penentu dan ada 2 bukan penentu), dan di bagian belahan gelap bumi ada 1 penentu dan ada 2 bukan penentu), sehingga seluruhnya ada 6 unit yang terdiri atas 3 unit di belahan gelap (di bawah) dan 3 unit di belahan terang (di atas), perhatikan gambar berikut:
Susunan jarak interval antar nada skala Mayor adalah: antara nada E - F berjarak 1, antara nada F - G berjarak 1, antara nada G - H berjarak 1, antara nada H - I berjarak 1, sedangkan antara nada I - J berjarak ½ . Posisi nada J adalah nada yang menempati posisi meng-invert dalam penentuan interval antar nada untuk sebagai penentu terutama.
Susunan jarak atau interval skala Mayor demikian pada kehidupan hal apapun di bumi akan selalu berpola demikian yang membuat arti kehidupan ada dalam fenomena Mayor (suka cita) dimana jarak ke posisi meng-invert tersebut selalu dengan jarak yang lebih dekat atau lebih pendek atau lebih singkat.
Selanjutnya sebagaimana susunan natural Mayor urutan nada E - F - G -H - I - J, dengan hal yang sama begitu juga susunan nada K - A - B - C - D - E memiliki jarak/interval antar nada berikut:
antara nada K - A berjarak 1, antara nada A - B berjarak 1, antara nada B - C berjarak 1, antara nada C - D berjarak 1, sedangkan antara nada D - E berjarak 1/2. Posisi nada E adalah nada yang menempati posisi meng-invert dalam penentuan interval antar nada untuk sebagai penentu utama (nada J sebagai penentu terutama).
4. Membuat Solmisasi Nada
Dari susunan nada dasar natural Mayor E=1 yaitu:
E - F - G - H - I - J - K - A - B - C - D - E
1 1 1 1 1/2 1 1 1 1 1 1/2
Dengan pembunyian atau solmisasi nada-nada adalah: E=do, F=re, G=ma, H=fa, I=sol, J=la, K=si, A=ga, B=be, C=ho, D=ras, E=do.
Lalu kemudian dapat disusun nada dasar natural minor A=1 yaitu:
A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - A
1 1 1 1/2 1 1 1 1 1/2 1 1
Dengan pembunyian atau solmisasi nada-nada adalah: A=ga, B=be, C=ho, D=ras, E=do, F=re, G=ma, H=fa, I=sol, J=la, K=si, A=ga.
5. Membuat Keseluruhan Nada-nada Secara Utuh
Secara keseluruhan dapat dibuatkan nada-nada musik baru yang berjumlah 20 nada per oktaf termasuk nada keomatik dengan susunan nada-nadanya pada skala minor yaitu: A - A# - B - B# - C - C# - D - E - E# - F - F# - G - G# - H - H# I - J - J# - K - K# - A
Dimana pada susunan nada nada skala minor tetsebut dengan jarak interval antar nada yang bertetangga terdekat adalah berjarak ½ laras.
Atau secara keseluruhan dapat dibuatkan nada-nada musik baru yang berjumlah 20 nada per oktaf termasuk nada keomatik dengan susunan nada-nadanya pada skala Mayor yaitu: E - E# - F - F# - G - G# - H - H# I - J - J# - K - K# - A - A# - B - B# - C - C# - D - E
dimana pada susunan nada nada skala Mayor tetsebut dengan jarak interval antar nada yang bertetangga terdekat adalah berjarak ½ laras.
III.1.2 Penghitungan frekwensi nada nada musik sistem 12 TET (20 Nada per oktaf)
Musik sistem 12 TET (20 Nada per oktaf) dapat dipakai secara global dalam komposisi musik klasik maupun populer di masa yang akan datang, dimana standarisasi frekwensi suatu nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi nada acuan dikali tiga pangkat satu per dua puluh pangkat n, dalam fungsi matematis dituliskan :
f_n = f_0 × {3 pangkat (1/20) pangkat n}
dimana:
f_n adalah frekwensi nada yang dihitung.
f_0 adalah frekwensi nada referensi, dalam hal ini f_0 = f_A4 (frekwensi nada A4 = 440 Hz).
n adalah jumlah langkah "setengah langkah" (semitone) dari nada referensi ke nada yang dihitung.
Dan standarisasi frekwensi oktaf nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi oktaf nada sebelumnya dikali tiga. Dalam fungsi matematis dituliskan:
f_oktaf berikutnya = f_oktaf sebelumnya × 3
dimana:
f_oktaf berikutnya adalah frekwensi nada di oktaf yang dihitung.
f_oktaf sebelumnya adalah frekwensi nada yang sama di oktaf sebelumnya.
dipakai secara global dalam komposisi musik klasik maupun populer di masa yang akan datang, dimana standarisasi frekwensi suatu nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi nada acuan dikali tiga pangkat satu per dua puluh pangkat n, dalam fungsi matematis dituliskan :
f_n = f_0 × {3 pangkat (1/20) pangkat n}
dimana:
f_n adalah frekwensi nada yang dihitung.
f_0 adalah frekwensi nada referensi, dalam hal ini f_0 = f_A4 (frekwensi nada A4 = 440 Hz).
n adalah jumlah langkah "setengah langkah" (semitone) dari nada referensi ke nada yang dihitung.
Dan standarisasi frekwensi oktaf nada yang dihitung adalah sama dengan frekwensi oktaf nada sebelumnya dikali tiga. Dalam fungsi matematis dituliskan:
f_oktaf berikutnya = f_oktaf sebelumnya × 3
dimana:
f_oktaf berikutnya adalah frekwensi nada di oktaf yang dihitung.
f_oktaf sebelumnya adalah frekwensi nada yang sama di oktaf sebelumnya.
3.2 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber Primer: Eksperimen langsung pada instrumen musik.
Sumber Sekunder: Literatur tentang teori musik mikrotonal dan teknologi instrumen.
3.3 Teknik Analisis Data
Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk menjelaskan implementasi dan potensi artistiknya, serta metode eksperimen untuk pengujian instrumen prototipe.
BAB IV - PEMBAHASAN
4.1 Dasar Teoritis Sistem 12-TET dengan 20 Nada per Oktav
Teori ini didasarkan pada pembagian logaritmis dari frekuensi nada. Setiap nada memiliki rasio frekuensi sebesar tiga pangkat (satu per dua puluh).
4.2 Implementasi Teknologi pada Instrumen Musik
Instrumen yang dapat diadaptasi termasuk piano elektronik, synthesizer, dan gitar mikrotonal dengan fret yang dapat disesuaikan.
4.3 Potensi Artistik dan Estetika
Harmoni Baru: Menghasilkan interval yang tidak mungkin dicapai dalam sistem konvensional.
Ekspresi Emosi: Menyediakan warna tonal yang lebih beragam.
4.4 Tantangan dan Solusi
Tantangan: Adaptasi musisi dan pengembangan instrumen.
Solusi: Edukasi musisi dan kolaborasi dengan produsen instrumen.
BAB V - KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
Sistem 12-TET dengan 20 nada per oktaf adalah inovasi yang mampu membuka dimensi baru dalam seni musik. Dengan penerapan teknologi dan dukungan dari lembaga riset seperti BRIN, sistem ini dapat menjadi fondasi untuk pengembangan musik modern di Indonesia.
5.2 Rekomendasi
1. BRIN dapat memfasilitasi penelitian lanjutan dan produksi prototipe instrumen berbasis sistem ini.
2. Kolaborasi dengan komunitas seni dan industri musik untuk memperkenalkan sistem ini ke pasar yang lebih luas.
Daftar Pustaka
1. Helmholtz, H. (1954). On the Sensations of Tone. Dover Publications.
2. Sethares, W. A. (2005). Tuning, Timbre, Spectrum, Scale. Springer.
3. Tenney, J. (1988). Meta-Hodos: A Phenomenology of Music. Frog Peak Music.
---
Karya tulis ini siap untuk disesuaikan lebih lanjut.
Comments
Post a Comment